Follow Us @nadiahasyir


Friday, January 14, 2022

RECAP 2021: MEMELUK INNER CHILDKU DI AKHIR TAHUN (ANAK DAN ORANG TUA)

Pandemi memberikan banyak kesedihan untuk semua. Banyak diantara kita yang kehilangan pasangan, keluarga, saudara, kerabat, dll. Satu hal yang tersisa dari kita yang masih diberi keistimewaan bisa beradaptasi di tengah wabah ini adalah rasa syukur. Bersyukur masih diberi nafas hingga detik ini. Setiap orang memiliki experience journey-nya masing-masing selama pandemi. Dan seperti yang  sempat aku bahas di Instagram Story, aku berjuang untuk menyelesaikan inner child di tahun 2021.

Definisi inner child yang aku baca dari situs parapuan.co, secara psikologi diartikan sebagai bagian dari diri manusia yang tidak ikut tumbuh dewasa dan tetap menjadi sisi anak-anak, berapapun usianya. Bagian ini akan selalu ada dalam diri manusia dan menetap dalam jiwa. Jika ada pemicunya, inner child ini kembali hadir dan menyebabkan suatu gejala. Awalnya aku nggak betul-betul mengerti bagaimana dan apa itu inner child sampai pada akhirnya aku menghadapi hal-hal yang akhirnya membuat aku kehilangan semangat, kehilangan minat akan hal-hal yang padahal sebelumnya sangat aku suka.

Ceritanya, tiga tahun lalu tepatnya bulan Juni 2019 adalah hari kelulusan untuk program magister yang aku ambil. Saat itu aku sedang mengandung dengan usia kehamilan 7 bulan. Setelah lulus, aku pikir aku butuh istirahat sejenak dari aktifitas diluar dan fokus mempersiapkan kelahiran anak pertamaku dengan sedikit santai karena selama hamil aku udah berjuang untuk menyelesaikan penelitian dan tesis, which is not easy. Aku dan suami masih belum punya rumah sendiri karena selama ini nomaden, kadang di Surabaya, kadang nginep di rumah orang tuaku, dan kadang di rumah mertua, karena kuliahku belum selesai sementara aku masih bolak balik kesana kemari. Setelah melahirkan, aku memutuskan untuk tinggal selama beberapa bulan di tempat orang tuaku sampai fase recovery pasca lahiran kelar. Ketika hampir tiba fase recovery selesai, pandemi datang dan skenario kehidupan berubah.

Kami nggak jadi pindahan rumah dulu dengan alasan waktu itu kondisi awal-awal pandemi rusuh banget kan? Nggak ngerti sampai kapan akan berakhir, mau spending money untuk pindahan rumah, aku rasa waktu itu bukan pilihan tepat. Kedekatan dengan keluarga juga menjadi nomor satu waktu itu. Akhirnya aku tetap tinggal di rumah orang tua, setiap hari bersama dan bertemu semua orang yang mau nggak mau harus WFH, dan disinilah akhirnya aku terjebak dengan inner child.

Selama di rumah, kehidupanku seperti kembali pada masa dimana aku masih sekolah, masa ketika aku masih tinggal satu atap dengan kedua orang tua. Seringkali pada beberapa waktu, ada kejadian yang mengingatkan aku dengan kejadian masa lalu yang membuat aku sedih. Well, ceritanya agak panjang ya, aku jelasin background storynya lagi dulu. Biar nggak bosen-bosen banget, kalian boleh bikin teh, kopi, atau ambil camilan dulu deh. Aku tungguin kok..

Udah belum? Udah? Oke, aku lanjut ya.. Jadi, qadarullah kedua orang tuaku memiliki kepribadian yang extrovert. Seperti kebanyakan orang di Indonesia, beliau juga mengaplikasikan hustle culture di keseharian dalam kehidupannya. Beliau berdua aktif sejak sebelum subuh sampai larut malam untuk melakukan berbagai aktifitas dan pekerjaan. Pada hari minggu, beliau juga beraktifitas sama sibuknya dengan hari biasa. Berdasarkan cerita beliau, saat remaja beliau berdua juga adalah orang yang sangat aktif berkegiatan dalam beberapa organisasi. Seingatku, keduanya sering menjadi ketua dalam organisasi-organisasi yang beliau ikuti. Sementara, aku memiliki kepribadian yang sangat berbeda dari beliau. Yap, aku seorang introvert. Aku nggak betul-betul memahami secara detail tentang introvert, tapi aku pernah dua kali mengisi MBTI-Test pada tahun yang berbeda dengan jarak lebih kurang 3 tahun, hasil yang keluar adalah aku seorang INTJ-A. Btw, aku juga nggak mengerti pasti penyebab kepribadianku ini bisa berbeda banget dengan orang tuaku.

Selama tinggal kembali di rumah kedua orang tua, aku melihat dan terlibat kembali ke dalam aktifitas harian kedua orang tuaku. Contohnya ketika sedang berada dalam situasi akan pergi ke suatu tempat (setelah new normal) untuk bertemu dengan banyak orang, aku diberi kabar secara mendadak. Sementara sebelum itu, kadang energiku sudah dalam kondisi nggak full atau kadang sebetulnya aku sedang beristirahat (charge my energy) untuk nantinya akan melakukan sesuatu hal yang sudah aku persiapkan. Karena mendadak, aku ngerasa exhausted dan hmmm, gimana sih rasanya energinya nggak full tuh, ngerti kan? Sekali, dua kali, dan beberapa kali terjadi. Aku kewalahan dan datang momentum aku inget kejadian masa lalu saat remaja, aku hendak diajak ke suatu tempat tapi aku nggak mau ikut. Posisi lagi nggak siap banget, antara nggak mampu mengkomunikasikan dengan baik alasan kenapa nggak mau ikut atau takut alasan yang aku utarakan nggak bisa diterima, masih bocil kan, komunikasiku masih belum bagus. At that moment, I just don't want to. Karena kekeuh nggak mau ikut tanpa penjelasan, akhirnya keluar dari mulut orang tuaku, "Pemalas!".

Satu kata itu menancap di dalam hati dan pikiranku sejak remaja dan aku bawa hingga dewasa. Aku selalu merasa ketika setiap kali aku menolak ajakan kedua orang tuaku, aku terlabeli dengan kata itu. Hari ini aku paham betul, kata itu mungkin tidak sengaja keluar dari mulut orang tuaku, mungkin pada waktu itu beliau sedang kelelahan atau kesusahan, tapi kata itu terekam terus di otakku, dan mungkin cuma tertinggal dan ada di dalam pikiranku. Pada waktu pandemi, ketika momen yang mirip itu beberapa kali datang, nggak ngerti kenapa pokoknya tanpa alasan atau sering tiap malam pas mau tidur, lagi pelukan sama suami, tiba-tiba aku nangis sesenggukan, setiap hari kepala rasanya berisik banget. Kalau kalian nanya kenapa ngomong sama orang tua aja susah, I have an issues, dulu hubunganku sangat baik, namun ada beberapa kejadian di masa mudaku yang membuat kami missing each other dalam waktu yang cukup lama. Namanya hidup ya, ceu..

Berdasarkan yang aku baca dari artikel di parapuan.co tentang Memahami Inner Child, Luka Batin Masa Kecil yang Abadi hingga Dewasa, ada 3 tanda umum saat trauma masa kecil hadir kembali di kehidupan kita, diantaranya ada: emosi, perilaku, dan kognitif (pola pikir). Penjelasannya kalian bisa baca langsung di artikelnya ya, nanti aku taruh linknya disini. Yang pasti, aku merasakan ketiga tanda itu. As a note, cerita dan kejadian tadi hanya satu diantara beberapa cerita dan kejadian yang membuat inner childku muncul. Jadi, ada banyak banget emang guys trauma masa kecil yang kita bawa ke kehidupan masa kini.

Singkat cerita, aku akhirnya masuk di fase menyadari bahwa inner child ini harus aku kenali, terima, pahami, dan selesaikan. Jika aku membiarkan inner child ini terus menghantui tanpa aku coba selesaikan, akan berdampak buruk untuk masa depanku, untuk hubunganku dengan suami, anak, dan orang-orang baru lainnya yang akan hadir di masa depanku nanti. Aku merasa, aku harus berdamai dengan diriku sendiri.

Ada satu waktu dimana aku akhirnya memberanikan diri untuk membuka komunikasi dengan ayah. Not gonna tell you the main reason why I opened discuss with him, tapi percakapan kita berdua juga membahas tentang kesalahpahaman yang pernah ada itu. Aku jelasin ke ayah bahwa aku introvert. Aku cerita ulang kejadian yang tadi aku ceritain di atas tentang kata "Pemalas" dan ketika aku merasa terlabeli hingga hari ini. Aku bukan pemalas, aku hanya memiliki beberapa jalan yang kebetulan berbeda 180 derajat dengan kedua orang tuaku. Aku memang nggak kayak ayah dan ibu yang bisa meet up with another human everytime anytime, aku (tidak selalu namun) sesekali butuh waktu untuk diri gue sendiri to charge myself, biar nanti pas ketemu orang, energiku full dan aku bisa treat other people well. Aku juga menjelaskan kenapa dulu aku nggak pernah ikut organisasi di kampus. Aku memanfaatkan waktu diluar kampus untuk hal lain, aku ngajar les anak-anak di suatu lembaga bimbel, jualan online mulai dari: fashion perempuan, pancake durian, mini pizza, kimbab jowo, sampai bikin jasa delivery di Malang bareng Vikki (suami gue), btw waktu itu belum ada ojol, jadi bisnis delivery sangat menjanjikan cuy waktu itu, sehari kami bisa dapat 50-100ribu cuma dalam 2-3 jam. Oke maaf oot, wk. Aku juga ikut beberapa komunitas, cuma memang nggak di dalam kampus tapi kegiatannya positif.

Aku nggak bilang organisasi itu nggak bagus ya. Tapi bagi aku, aku nggak merasa organisasi adalah satu-satunya pilihan atau pilihan yang terbaik untuk menjadi aktif dan produktif dalam berkegiatan lain di luar pendidikan kampus. Masing-masing orang punya interestnya sendiri untuk tetap menjadi pribadi yang produktif dalam mencari pengalaman di dalam kehidupan. Dan apa yang aku yakini ini, bisa aja berbeda sama yang kalian yakini. Tapi itu nggak papa banget dan nggak harus bikin kita jadi saling musuhan.

Aku nggak nyangka juga sih akhirnya uneg-uneg selama bertahun-tahun bisa aku jelaskan ke orang tua tanpa emosi dan nada tinggi, tanpa nangis bombay (lagi) pula. Bener-bener percakapan yang chill dan nyaman. Gila sih, ternyata aku udah mulai dewasa ya, wkwk. Dasar.

Finally, nggak cuma aku yang lega, tapi ayah juga lega karena komunikasi kita semakin membaik. Grundelan (bahasa jawa) itu pelan-pelan berkurang dan it's becoming clear. Anyway, kalau kalian pernah merasakan hal yang aku alami, isokay guys, inget aja it's two different thing antara malas sama kepribadian. Tapi aku dan kalian juga harus tahu pembedanya kapan aku dan kalian emang males-an, kapan itu memang ke-introvert-an kita yang butuh di notice.

Begitu guys ceritanya. Sebelum mengakhiri cerita ini, aku juga pengen bilang kalau inner child itu bener-bener harus kita kenali pahami dan terima, kalau udah, sesegera mungkin kita harus berdamai dengan inner child kita. Kenapa? Biar nggak ngulang kejadian yang sama ke anak cucu kita. Dari cerita ini aku dapet satu insight dimana aku harus belajar memahami karakter dan sisi anakku, aku harus mencoba dan berhasil untuk mengenali dia berkali-kali lipat lagi. Selalu ada kemungkinan kejadian serupa akan terulang di aku dan anak gue. Bayangin kalau aku belum berdamai dengan diri sendiri, aku bisa saja akan tumpahkan kekesalan masa laluku ke dia, padahal dia nggak salah apa-apa. Kita cuma beda pemikiran dan pendapat. Jangan sampai kita dhalim ke anak kita kelak. Naudzubillahi min dzalik.

Hmmm, baiklah. Makasih ya udah baca sampai akhir. Kalian boleh banget loh chat di kolom komentar. Atau cerita inner child yang sedang kalian hadapi sekarang, boleh banget. Last but not least, aku of course sayang banget sama kedua orang tuaku. Semoga pelan-pelan semua inner child yang tersisa dalam diriku, bisa selesai. Jangan lupa cium tangan ya sama kedua orang tua kalau masih ada. Buat yang orang tuanya sudah berpulang, sini peluk dulu, semoga beliau husnul khotimah. Aamiin.

DO'A UNTUK KEDUA ORANG TUA

"Robbighfirli waliwaalidayya warhamhuma kama robbayaanii shoghiroo."

Artinya: Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku sejak kecil.

Yuhuuuu.. Sampai jumpa dilain kesempatan.. Baca juga RECAP 2021-nya temen aku Rizka.

RECAP 2021 -- Ceritaku di 2021 : Udah pasrah gak mikir nikah, lalu sesuatu terjadi..

No comments:

Post a Comment