Follow Us @nadiahasyir


Saturday, February 3, 2018

[Bukan Review] Baper Nonton Dilan 1990

Hulaaa gengs.
Mmmm.. Kalau kalian pada sadar, tadi pagi blog post ini udah sempat aku publish, tapi kemudian aku pindah ke draft lagi. Aku yang masih bernafas di pagi hari tadi, belum menyelesaikan baca buku Dilan 3 (Milea). Aku memutuskan untuk membacanya kembali hingga tamat, dan melewatkan hari ini hingga berjumpa dengan hujan di sore hari saat ini.

Aku baru saja pulang dari nonton Dilan 1990 (lagi). Yap, semacam belum bisa move on dari cerita Dilan. Hari ini aku nonton bareng ibuku, teman ibuku, dan anak perempuannya (semester akhir siap mendapat gelar sarjana kedokteran hewan). Setelah ketiga novel Pidi Baiq tamat aku baca dan setelah 2x aku nonton film Dilan 1990. Tingkat kebaperan mulai meningkat maksimal berkali lipat 😂
Mau tau respon dari aku? Simak yuk!


Masih panas nih masuk minggu kedua film Dilan 1990 diputar di seluruh Bioskop Indonesia.
Udah pada nonton dong pastinya?
Nadia? Udah dong. 

Artikel ini aealnya aku tulis tepat satu hari setelah nonton film Dilan 1990. Dan hari ini, 2 hari setelah hari nonton pertama aku, aku nonton lagi. Kenapa masih belum bisa move on? Kebetulan si Vikki lagi baca novelnya, dia juga ikut baper kayaknya. Tapi karena kesibukan masing-masing dari kami, aku nggak bisa nonton bareng dia dan dia belum nonton hingga hari ini. Padahal udah siap pengen baper berdua eaaakkkk.

To be honest sebenarnya aku pecinta apapun, yang kalau aku udah suka, bakalan gabisa berhenti.
Yep. Kalau sekarang aku lagi cinta banget sama make up, dulu semasa SMA bisa dibilang aku collector novel. Bisa dibilang selain hobi berantem, Vikki dan aku suka banget baca novel. Hampir tiap hari kita baca novel bareng dan suka tuker-tukeran gitu. Cerita tentang kehidupan, keluarga, percintaan, fantasi, aku suka. Kehidupan sih yang paling kita suka.

Tapi ya gitu, karena udah lama nggak beli novel. Ya kali buk, beli novel terus, duit dari mana heheh.
Aku juga anaknya bukan yang suka pinjem novel. Setiap mau baca suatu novel, aku pasti beli.
Bukan songong ya, tapi.. Mmm, I hope you can understand.
Ngebaca tuh jadi lebih bebas gitu loh kalau punya sendiri.
Kira-kira begitu, jadinya baru kusadari ternyata udah lumayan lama ya aku ngga beli novel.

Bahkan setahun belakangan ini temen-temen aku udah pada baca novel Dilan 1990, aku nggak minat. Entah bagaimana racun makeup bisa menutup semua kecintaanku kepada novel.
Kemudian, sampailah pada novel Dilan 1990 diangkat menjadi sebuah film.

Sejujurnya, dari awal belum terlalu excited. lama-lama keracun banyak temen-temen ngobrolin, ngebahas Dilan 1990. Nggak di sosmed, nggak di dunia nyata, semua pada bahas Dilan 1990.
Pada akhirnya aku menyerah dan mulai kepo.

Sehari sebelum nonton Dilan 1990, aku baca novel seri pertama which is yang dijadikan film itu.
I have done less than 3 hours. Gilakkk!

Nadia's Quote
Need less than 2-3 hours to read Dilan 1990.
Need more than 2-3 days to read International Journal of Science

Wkakakakkk..






The day was coming.
Hari Kamis, 1 Februari 2018.
Sepulang dari kampus untuk bimbingan rencana studi semester 3 pascasarjana,
aku dan teman-temanku memutuskan untuk nonton film Dilan 1990.
Galau mikir nonton kemana, mempertimbangkan jarak dan tingkat kelelahan di jalanan Surabaya yang selalu macet sist, wk. Akhirnya cari yang deket-deket kampus ajalah, and we choose,

Galaxy Mall (deket pake bingits dari kampus).

Aku berangkat bareng Nadya (iya nama kita sama, beda di huruf I sama Y aja.
Duo Nad yang sama-sama berkaca mata dan hobi koleksi makeup dan skincare wk.
Bedanya, she's smarter than me, apalah aku cuman upil, wkwk.

Btw, ini loh Duo Nad

Sebenernya ada Nabilah juga, tapi dia bilang mau ke kosan Maya (temen kita) dulu, jadinya kita berdua yang berangkat duluan. Beli tiket lebih awal dan sambil menunggu Nabilah dateng dan temannya (dia juga ajak teman S1-nya btw), seperti biasa namanya juga Duo Nad, mampir Guardian, Stroberi, Century, dan tempat-tempat lainnya buat keracunan makeup dan skincare. Jadilah kantong kering dalam waktu seharian aja, sejam doang malah kayaknya wkwk.

Nabilah dateng sekitar jam 5 sore dan akhirnya kita cari makan dulu. Anyway, kita beli tiket Dilan 1990 untuk jam 7 malam. Buat yang kepo nonton di Galaxy Mall berapa tarifnya, IDR 35.000/tiket.
Kita makan di Kimchi-Go. Sesama korean lova kita kompak lah buat kesana, wkwk.
Mmmm, berhubung aku pernah tinggal di Malang dan korean food yang menurut aku paling enak yang pernah aku makan adalah buatan KIRIN (Kimbap Rina). Although Kimchi Go ini tempatnya lebih nyaman, rasa menurut aku B-aza dan belum ada yang bisa ngegantiin Kirin deh di hati. Dabest pokoknya. Aku pap snapgram aku waktu lagi makan di Kimchi-Go deh, ehe.

Hampir jam 6 sore, temennya Nabilah dateng. Setelah dia pesan dan ikut makan, kita cari musholla dulu buat shalat Maghrib. Dan, ga berasa jam sudah menunjukkan hampir pukul 7, which is waktunya masuk ke teater.


Disinilah pemikiran dari diriku tentang Dilan 1990 dimulai.
Aku nggak akan bicara tentang sinopsis sih disini, melainkan pendapat aku tentang cerita Dilan 1990.
Setelah mengamati, memikirkan, dan menikmati ceritanya,
aku punya dua versi dari diriku tentang ini.

Yang pertama,

Hal yang aku tangkap dari novel pertama dan kedua, dan dari film Dilan 1990. Aku bisa merasakan kebahagiaan drama percintaan anak SMA di tahun itu. So sweet tanpa adanya gadget, sepikan dan kerinduan, yang.. mmm, you know lah.. Sukses bikin ketawa ngakak sendiri deh tiap inget.

Cerita Dilan 1990, aku memandang dari sudut Penulis dan Milea ya. Aku bahas yang Milea dulu ah biar panas wkwk. I was thinking like, si Milea ini menceritakan sosok Dilan yang pernah dicintai, orang yang begitu istimewa di masa lalu, memiliki karakter yang nggak akan terlupakan. If you know, ada masanya dimana kita sebagai manusia memiliki ingatan tentang sesuatu yang membahagiakan. Meskipun waktu telah berlalu begitu lama, yang namanya kenangan nggak akan terlupa. Jujur aku ikut alay dan baper dengan apa yang terjadi diantara Dilan dan Milea. Udah gitu aja. Sekarang tentang Penulis. Aku merasa, Pidi Baiq keren banget. Beliau seorang laki-laki kan, tapi dengan bahasa yang sangat baik, awesome, menakjubkan, apalah itu, sangat menyentuh, beliau menulis sebuah cerita dengan gaya orang pertama adalah perempuan (Milea). Keren banget nggak? Bayangkan. Aku rasa nggak semua penulis bisa melakukan apa yang Pidi Baiq telah buat di cerita itu.

Bisa dibilang baper maksimal, tapi baper dalam hal ini adalah baper senyum-senyum gajelas, mengenang masa SMA. Setelah aku menyelesaikan novel kedua, mulailah dateng baper yang kedua.

Yang kedua,

Waktu tahu ternyata Dilan dan Milea putus, sumpah sedih banget. Kalau dihubungkan ke kehidupan pribadi nih ya. Rasanya ikutan sedih. Ngga bisa bayangin gimana perasaannya untuk menjalani hubungan pahit yang harus berakhir. Sedih banget pokoknya, kecewa. Nah ini baper sedih.
Kecewa baca cerita di buku kedua, akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan bacaan buku ketiga secara kilat!

Nah terus setelah aku baca nove ke 1 & ke 2 jadi mikir. Ini si Melia apa dah, inget mantan gitu tujuannya? Udah punya suami loh. Nanti cemburu wkwk. Iya kalau suaminya ga cemburuan, haha apaan sih Nad...

Yang ketiga,

Aku mulai bisa memahami yang namanya sebuah takdir. Ga jadi mikir si Melia kenapa inget mantan sih lagi, wkwk. Keputusan Dilan & Milea untuk tidak berusaha memperbaiki hubungan memang sebuah nasib. Tapi ketika hal tersebut telah terjadi, barulah itu disebut takdir. Aku bisa bicara seperti itu karena aku mengingat tentang yang diucapkan Remi Moore, "laki-laki itu gengsian, perempuan itu pemalu.", nggak sama persis sih ucapannya, tapi kira-kira seperti itulah. Hal itu yang membuat perpisahan terjadi.

Baper kali ini disponsori oleh air mata yang tiba-tiba mengalir dan mengucur deras tepat setelah kalimat terakhir dari novel ketiga selesai aku baca. Agak alay kedengarannya, tapi itulah aku, miss baper. Hehe.. Hal yang menambah kebaperan adalah ketika Dilan menyebutkan bahwa dirinya dan Milea pernah memimpikan untuk hidup bersama selamanya, merasakan bahwa dikehidupan selanjutnya akan sama dengan yang sedang mereka rasakan ketika sedang bersama.

Seketika aku ikut sedih dan menyadari bahwa, ya itulah kehidupan. Terkadang impian dan doa yang pernah kita pikirkan, ternyata bukan itu yang terwujud. Ya tapi kemudian pasti Allah memberikan yang lebih baik dari itu. Udah deh pokoknya sedih banget dan terharu dengan cerita hubungan mereka.

Setelah menelaah novel ini, harapan terbesar semoga miss komunikasi tidak terjadi lagi di masa sekarang. Semuanya serba mudah di masa kini. Semoga yang kita impikan dan doakan akan terwujud.

Sempat sedih untuk mengingat, jodoh nggak ada yang tau ☺️

Mungkin di buku 1 dan 2, akan lebih banyak kisah mengenang mantan. Tapi percayalah, di buku 3 kamu akan lebih mengenang dan belajar banyak hal, bagaimana supaya hubunganmu dengan pasanganmu yang sekarang menjadi lebih baik dari apa yang terjadi kepada Dilan & Milea.


Tapi so far keren banget sih asli film ini. Ga sabar tunggu Dilan 1991. Semoga Milea juga ada lagi buat nextnya. Bapernya dapet, pesan moralnya dapet, meskipun cerita anak SMA. Tapi yaa, lumayan lahh sepik-sepikan yang selalu bikin baper selama nonton jadi inget masa SMA suka sepik-sepik sama kamu eaaaaa..

Ga nyangka Iqbal udah gede. Dulu masih inget waktu di Idola Cilik Iqbal cita-citanya mau jadi penghafal Al-Qur'an dan jadi Ustadz. Masih engga ya sampe sekarang? Hehe.
Btw, awalnya nggak tau kalau pemeran Milea ternyata adiknya Priscilla. Suka banget sama kakaknya dari dulu, terutama kisah cinta dengan suaminya dan cerita keluarga kecil mereka, lah sekarang adeknya juga cute.

APA DAH.. Wk!

udah dibilang ini bukan sinopsis, cuma pengen nulis aja..
Seperti biasa Nadia si anak kelelawar, selalu gabut di malam hari, hehe.
(closing statement ini aku sengaja nggak edit lagi, karena gatau musti ganti pakai apa hehe)

Sekian.
Lafyuuu..

No comments:

Post a Comment